Postingan

Menampilkan postingan dengan label Novel

Malam yang menjanjikan (IX)

Menjelang sepertiga malam. Umairoh saat itu benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena belum ngantuk, insomnia, apalagi ingin begadang. Ia tidak bisa tidur, karena memikirkan lelaki di kafe tadi. Bukan. Bukan lelaki MLM itu. Tetapi lelaki di kasir itu. Astaga, apa benar dia Fulan. Jelas tampak berbeda dari Fulan sebelumnya. Rambutnya cepak belah satu, badannya tegap, mukanya sedikit beringas, dan yang ia tau muka Fulan selalu bermimik genit. Kalaupun Fulan, kenapa tidak menyapanya, sedikit senyum pun tidak. Heran. Tapi kenapa ia merasa dekat dan kenal dengan lelaki ini, dan kenapa pula lelaki ini tidak berani menatap matanya dan membalas senyumannya. Siapa dia? Siapa lelaki ini? Fulan? Benar, ia yakin lelaki ini adalah Fulan. Tapi? Ah… benar-benar membingungkan. Hanya sekitar tiga jam Iroh tertidur. Bangun dan lagi-lagi memikirkan lelaki yang mirip seperti Fulan. Bahkan sampai terbawa ke dalam mimpi. Terlihat dalam mimpi, seorang lelaki berjanggut panjang sedang berjihad dan ters...

Taubat? Entahlah (VIII)

Senja pagi hari mulai membumbung tinggi. Udara dingin nan sejuk mulai terasa di tubuh. Di tempat pesantren yang mulai ramai. Tince, bukan… Fulan. Selesai sholat shubuh, mandi, lalu berpamitan kepada Aminah dan lainnya untuk pulang, memang acara perpisahannya tidak bermakna, tetapi bekal kehidupan yang ia dapat dari pesantren sangatlah bermakna. Atas dukungannya dari Aminah, atas pengetahuan ilmu agamanya yang bertambah, atas keyakinannya akan janji-janji Tuhan, ia semakin mantap untuk menjadikan dirinya sebagai laki-laki sejati. Taubat? Entahlah. Pulang menaiki bus kota. Fulan termenung memikirkan masa depannya, langkah-langkah kedepan yang ia akan lakukan untuk menjadi lelaki sejati, mencari pekerjaan baru, berpisah sementara dengan Umairoh, dan mencari teman-teman seperjuangannya. Dua jam berlalu, di pemberhentian terakhir, Fulan turun di tengah keramaian Terminal, berjalan sekitar dua meter dari terminal, ia melihat sebuah kafe yang sedang mencari pegawai baru. Melangkah masuk ...

Takdir Tuhan siapa yang tau? (VII)

Selang beberapa minggu berikutnya, akhirnya Tince mendapat kabar tentang keberadaan Aminah. Informasi itu ia dapat dari dukun yang pernah ia datangi. Di sebuah pesantren di pinggiran Ibu Kota tempat sekarang Aminah berada. Dengan alamat jelas yang sudah dipegang, Tince mantap meniatkan diri untuk bertemu Aminah. Entah apa yang akan dilakukan ketika mereka bertemu, yang jelas Tince sangat merindukan Aminah. Sore hari, disaat ufuk mulai tenggelam, disaat awan jingga mulai bergantung, disaat semua harapan mulai terbuka. Tince berpamitan kepada Iroh untuk menemui Aminah. Dengan doa dan berbekal seadanya, Tince pun bergegas dan berangkat ke tempat tujuan. Perjalanan selama dua jam mulai ditempuh, bukan karena lokasinya yang jauh, tetapi karena macet jalanan yang terlalu menyita. Sesampainya di tempat tujuan. Di gerbang pintu masuk, Tince berdiri menatap spanduk lusuh bertuliskan “PESANTREN AL-MUBAROKAH”, “Oh ya… apa benar disini ada Aminah?” berbisik hati Tince. Badannya kaku, tatapann...

Resah Hati (VI)

Adzan subuh berkumandang. Ayam-ayam ber- kokok ria membangunkan seisi komplek. Terbangun Iroh dari lelap tidurnya, mengambil air wudhu, sholat dan berdoa. Termenung memikirkan perempuan yang dikatakan Tince. Heran. Mengkerutkan dahi. “astaga!!! Jangan sampai wanita jadi-jadian, jangan sampai banci.” Tak selang berapa menit Tince bangun. “Minah… Aminah.” Ternyata mengigau. “Hei bangun, sholat, udah bisa sholatkan?” Tanya Iroh. “Ngantuk teh…” Jawab Tince. “Fulan… kamukan janji mau nyeritain yang kemarin malam.” Balas iroh dengan menggoyang-goyangkan badan Tince. “Iya teh.” Balas Tince dengan matanya yang masih merem . Masuk kamar mandi. Cuci muka. Setelah itu. Tince duduk termenung berdiam diri. “Engga sholat?” Tanya Iroh. “lagi M teh…” Jawab Tince dengan meyakinkan. “ohhh…” Balas Iroh dengan tak sadar padahal Tince laki-laki. “Cerita darimana ya teh?” Tanya Tince. “Minah, siapa Aminah?” Tanya Iroh penasaran. Percakapan subuh pun dimulai. Dimulai dengan cerita...

Kasmaran (V)

Make up tebal menghias wajah, pakaian ketat tertutup membalut tubuh, semerbak wewangian bunga membasuh baju. Tince. Semok, tidak. Najis, iya. Itulah dandanan Tince setiap paginya saat hendak pergi bekerja. Karaoke jelita yang buka siang hari sampai malam hari, yang terletak di dekat terminal Ibu Kota adalah tempat kerjanya Tince sebagai singer dadakan. Dadakan memang, tapi setiap jamnya selalu ada saja orang-orang yang memanggil Tince untuk bernyanyi bersama. ABG muda, ABG tua, duda kaya, duda miskin, lelaki kesepian, lelaki berisitri, selalu saja tertarik oleh suara emasnya tince, bukan saja suaranya, lihai badannya, centil bibirnya, apalagi kedipan matanya. Malam beranjak naik. Sudah pukul sembilan malam. Tince berharap pekerjaannya selesai, menunggu tiba waktunya pulang. Tidak seperti malam biasa, malam itu pengunjung tampak sepi, keramaian dihabiskan dari siang hari sampai sore hari. Tince dengan lamunannya menunggu dua jam yang tersisa di luar karaoke, melihat pemandangan te...

Perpisahan Masa Lalu (IV)

à      Hijau. Lapisan terasering sawah yang menjuntai dari arah timur ke barat, dengan beberapa padi yang mulai mengkuning dan beberapa belalang tua diujung daun yang warnanya kuning kecoklat-coklatan. Dikelilingi berbagai macam pohon-pohon rindang, rimbun, elok dan sentuhan tanaman hijau yang tidak terhitung jenisnya. Mulai dari tanaman singkong sampai tanaman ganja yang entah milik siapa. Beratapkan langit yang berwarna gradasi biru terang kemilau mata. Berhiaskan burung layang-layang yang bernyayi ria dan menarikan formasi menggoda bakal pasangan.  Dikaki gunung, kokoh terdapat sebuah rumah yang lebih mirip mesjid ketimbang rumah hunian. Dirumah tersebut terdapat kesebalasan bocah-bocah liar yang selalu bergembira, berlalu lalang di teras rumah, menjahili temannya satu sama lain, dan tentunya pipis di celana. Memang kami tidak tau asal-usul kami, siapa ayah ibu, dimana kami dilahirkan. Yang kami tau hanyalah kekekeluargaan yang tumbuh di rumah panti di k...

Yang katanya Novel EP

Gambar
Sedang mengerjakan Project Novel EP... Sebenarnya jauh dari kata novel, jauh, jauh Hanya sedikit, baru sedikit, masih progress, doakan sebelum akhir tahun selesai Tanpa ilmu, tanpa pengalaman, hanya ingin membuat karya Terilhami dari kisah nyata seseorang Termotivasi oleh novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karangan Tere-Liye Terinspirasi kata-kata dari lagu-lagu Budi Cilok dan terutama lagu-lagu Iwan Fals -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bandung, 9-17-2014 sedang menjadi guru piket

Mengenang Masa Lalu (III)

à      Hitam. Warna seperti malam. Kekar. Roda-roda melingkar. Kereta tua yang jalur-jalur relnya membelah ibukota itu berderit berhenti di stasiun. Penumpang berwajah-wajah antusias, wajah-wajah lelah, wajah-wajah cabul, dan wajah-wajah mesum, berpadu menjadi satu. Diantara puluhan penumpang yang naik turun kereta itu ada satu orang yang selalu menatapku, memperhatikanku gerak-gerikku, langkahku, peringaiku, dan itu mencurigakan. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Rel berikutnya. Gerbong berikutnya. Kereta berikutnya. Sudah tidak asing lagi dikehidupanku. Bahkan orang mencurigakan pun aku sudah tau namanya. Anas. Anas Urbaningsih. Terdengar tidak asing namanya. Lelaki berbadan tegap dengan kumis tebal dan rambut jambul seperti elvis itu sudah memikat hatiku. Entah kenapa yang dulunya mencurigakan, lama-kelamaan bisa membisukan hatiku menjadi berbunga-bunga. Keesokan harinya. Dari speaker tua stasiun kereta yang biasa mengumumkan “perhatian-perhatian…” at...

Pertemuan dengan Tince Sukarti (II)

Cukup lama Iroh jalan sendiri malam itu. Di penghujung sepertiga malam menjelang subuh. Dari terminal menuju ke kostan remang-remang yang cukup jauh jaraknya. Tanpa teman yang sanggup mengerti. Hingga saat dijumpakan kembali, dengan mata yang tajam menikam jiwa, menampar bangkitkan Iroh. Sobat… Tince sukarti binti machmud kembang terminal yang berwajah lembut. Kuning langsat warna kulitnya. Rambut panjang, ikal, hitam di pikok. Penyanyi karaoke tembang lawas. Kasidah, rock ‘n roll , keroncong genre yang ia sukai. Tapi sayang Tince bukanlah wanita sekuat Iroh, melainkan Tince wanita jadi-jadian. Terlihat dari Kumis tipis, jenggot bekas dikurud dan puting yang terbuat dari leunca . “Iroh… Umairohhhh… Wahai Umairohhh !!!” teriak Tince sambil berlari dari kejauhan. Dengan jantung yang berdetak kencang, bulu kuduk yang merinding, dalam hati Iroh berkata “Fulan?? Apa itu Fulan sobatku sedari kecil? Kenapa ia memanggilku wahai umairoh? Memang aku sesembahan?” “Umairohh… ...

Ancur Hati Umairoh (I)

Malam terang. langit bersih tak tersaput awan. Gugusan bintang baris berbaris membentuk ribuan formasi, mengukir angkasa. Angin malam menerpa raga, lembut, menyenangkan, menelisik, bernyanyi di sela-sela kuping, membelai rambut gelap terurainya Iroh. Umairoh. Wanita berkebaya merah yang sedang patah hatinya. Hiruk pikuknya malam seminggu setelah lebaran di terminal Ibu Kota. Iroh melamun dalam kesendiriannya, ditemani penjaga wc yang sedang duduk menghitung koin receh. Betapa tidak, ramainya orang yang berlalu lalang tidak dihiraukan oleh Iroh, begitupun dengan penjaja koran, peminta-minta, dan pedagang cangcimen. Iroh yang baru saja pulang dari kampung halamannya, membawa oleh-oleh yang berat bebannya. Bukan makanan khas daerah, pakaian tradisional, apalagi sanak famili. Tetapi yang ia bawa adalah perasaan yang A-N-C-U-R. Putus cinta ditinggal kawin. Iya… Pacarnya bernama Anas kabur dengan janda beranak lima pilihan neneknya. Hati Iroh sangat hancur berserakan, berhamburan kaya ...